Selasa, 07 April 2015

intelegensi

INTELEGENSI

A.    Pengertian Intelegensi
Intelegensi berasal dari kata latin “intelligece” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain. (to organize, to relate, to bind together). (Prof. Dr. Bimo Wagito, 2004). Jadi intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. (Abdul Rahman Shaleh, 2009). Istilah intelegensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang intelegensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal. Padahal menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian intelegensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.
Pengertian intelegensi menurut para ahli :
1.      Menurut William Stern, intelegensi adalah kesanggupa untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya
2.      Lewis Madison Terman, intelegensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak

B.     Macam-macam Intelegensi
1.      Intelegensi praktis (practical intellegence)
Adalah nama lain untuk intelegensi motor – indera yang tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan motor – indera (usia 0 – 2 tahun) dan merupakan dasar dari semua intelegensi yang berkembang kemudian.
2.      Intelegensi pra operasional (preoperational intellegence)
Anak memasuki periode perkembangan praoperasi (usia 2 – 7 tahun). Ciri dari anak pada masa periode ini adalah :
a.       Cara berpikir anak bersifat egosentris (egocentric) yaitu berupa pandangan sempit dan  mengacu pada diri sendiri serta tidak mampu melihat masalah dari sudut pandang orang lain.
b.      Cara berpikir kompleksif (compexive thinking) Yaitu berpikir tidak dengan jalan menyatukan beberapa pemikiran ke dalam satu konsep yang berarti akan tetapi justru meloncat dari satu gagasan ke gagasan yang lain.
c.       Kecenderungan yang kuat dalam diri anak untuk menempatkan sifat-sifat manusia pada benda mati
d.      Ketidakmampuan anak untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut pengarahan dan koordinasi pikiran, yang mana anak memerlukan petunjuk luar (external cues) yang langsung dapat membimbing dan memantapkan perilakunya untuk dapat melaksanakan tugas tertentu.

3.    Intelegensi operasional (operational intellegence)
            Di sekitar usia 5 – 7 tahun anak mulai memahami apa yang disebut sebagai operasi nyata (concrete operation). Pada tahap ini apa yang dihadapi anak terbatas pada karakteristik-karakteristik nyata yang terjadi dalam situasi-situasi nyata.
4.     Intelegensi operasional formal (formal operational intellegence)
Perkembangan intelegensi ini diawal pada masa awal remaja. Dalam penyelesaian masalah anak mampu menyisihkan berbagai penyebab kejadian. Di tahap ini anak mulai mampu menyelesaikan masalah. Hal itu merupakan suatu kemampuan yang sangat penting dalam mempelajari berbagai informasi yang harus diterimanya dari lingkungan.

C.    Teori-Teori Intelegensi
1.      Teori “uni-faktor”
Pada tahun 1911, Welhelm Stern memperkenalkan suatu teori tentang intelegensi yang disebut “uni-factors theory”. Menurut teori ini intelegensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Oleh karena itu, cara keja intelegensi juga bersifat umum. Kapasitas umum yang ditimbulkan lazim dikemukakan dengan kode G (General Capacity).


2.      Teori “two-factors”
Pada tahun 1904 sebelum Stern, seorang ahli matematika bernama Charles Spearman mengajukan teori ini, yang dikenal dengan sebutan “two kinds of factors theory”. Spearman mengembangkan teori intelegensi berdasarkan suatu faktor mental umum yang diberi kode “G” serta faktor-faktor spesifik yang diberi tanda “S” untuk menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan. Faktor G lebih tergantung kepada dasar, sedangkan faktor S itu dipengaruhi oleh pengalaman (lingkungan, pendidikan).
3.      Teori “multi-factors”
Teori ini dikembangkan oleh E.L Thorndike. Menurutnya teori ini tidak berhubungan dengan konsep faktor “G” yang mana bahwa intelegensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku individu. Intelegensi menurut teori ini jumlah koneksi aktual dan potensial di dalam sistem syaraf. Misal ketika seorang individu menghapus sajak itu berarti bahwa ia dapat melakukan itu karena terbentuknya koneksi-koneksi di dalam sistem syaraf akibat belajar atau latihan.
5.      Teori “sampling”
Godfrey H. Thomson pada tahun 1916 menyempurnakan teori ini dari berbagai kemampuan sampel. Dunia berisikan berbagai bidang pengalaman itu terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidak semuanya. Masing-masing bidang hanya dikuasai sebagian-sebagian saja. Ini mencerminkan kemampuan mental manusia. (Abdul Rahman Saleh, 2009)

Teori intelegensi menurut para ahli :
1.      Alfred Binet (1857 – 1911)
Salah satu ahli psikologi yang mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum (G). Menurut Binet, intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup intelegen / tidak, dapat diamati dengan cara dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. Inilah yang dimaksudkan dengan komponen arah, adaptasi dan kritik dalam definisi intelegensi.
2.      Jean Piaget
Teori ini ditekankan pada aspek perkembangan kognitif, tidak merupakan teori yang mengenai struktur intelegensi semata-mata. Piaget mendefinisikan intelegensi secara kuantitatif sebagaimana umumnya dicerminkan oleh banyaknya jawaban yang benar pada suatu tes akan tetapi ia menyimpulkan dalam prinsip teorinya bahwa daya pikir / kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. (Ginsburg dan Opper, 1969; Lazerson, 1975). Oleh karena itu, masalah utama dan membahas intelegensi adalah masalah cara mengungkapkan berbagai metode berpikir yang digunakan oleh anak-anak dari berbagai tingkatan usia. (Balqiz Ekatri Azalea, 1996)

D.    Ciri-ciri Perbuatan Intelegensi
Suatu perbuatan dapat dianggap intelegen bila memenuhi beberapa syarat antara lain :
1.      Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan
Misal : mengapa api jika ditutup dengan sehelai karung bisa padam? Ditanyakan kepada anak yang baru bersekolah menjawab dengan betul maka jawaban itu intelegen, tetapi jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru saja mendapat pelajaran ilmu alam tentang api, hak itu tidak dapat dikatakan intelegen.
2.      Perbuatan intelegen, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis
Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya, dicarinya jalan yang dapat menghemat waktu maupun tenaga.
Misal : saudara kehilangan pulpen di suatu lapangan, bagaimana mencarinya?
3.      Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan
Misal : ada suatu masalah, bagi orang dewasa mudah untuk memecahkannya, hampir tiada berpikir, sedang bagi anak-anak harus dijawab dengan otak, tetapi telat, jawaban anak itu intelegen.
4.      Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat
Misal : apa yang harus anda perbuat jika anda lapar? Kalau jawabnya : saya harus mencuri makanan. Tentu saja jawaban itu tidak intelegen.
5.      Dalam berbuat intelegen seringkali menggunakan daya mengabstraksi
Misal : apakah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabstraksi.
6.      Perbuatan intelegen bercirikan kecepatan
Proses pemecahannya relatif cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi.
7.      Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi
            Apa yang akan saudara perbuat jika sekonyong-konyong saudara melihat orang yang tertabrak mobil dan pertolongan saudara sangat diperlukan?
(Drs. Ngalim Purwanto, MP. 1999)

E.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lain, yaitu :
1.      Pembawaan : pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
2.      Kematangan : tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah menacpai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan berhubungan erat dengan umur.
3.      Pembentukan : pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
4.      Minat dan pembawaan yang khas : minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
5.      Kebebasan : kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamanya menjadi syarat dalam perbuatan intelegensi. (Drs. Ngalim Purwanto, MP., 1999)

G.    Pendekatan-Pendekatan Intelegensi
Dalam memahami intelegensi, Maloney dan Ward (1976, dalam Groth – Marnat, 1984) mengemukakan empat pendekatan umum. Di antaranya :
1.      Pendekatan teori belajar
Inti pendekatan teori belajar terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang dipergunakan oleh individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru. Dalam pendekatan ini para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku yang tampak dan bukan pada pengertian mengenai konsep mental dari intelegensi itu sendiri.
Dalam pendekatan ini perlu ditekankan bahwa hampir semua ahli teori belajar, intelegensi bukanlah sifat kepribadian (trais) akan tetapi merupakan kualitas hasil belajar yang telah terjadi. Lingkungan belajar sendiri menentukan kualitas dan keluasan cadangan perilaku seseorang dan karenanya dianggap menentukan relativitas intelegensi individu.
2.      Pendekatan Neuro biologis
Beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar anatomis dan biologis perilaku intelegen. Menurut pendekatan ini, dapat ditelusuri dasar-dasar neuro-anatomis dan proses neuro-fisiologisnya. Oleh karena itu, dalam berbagai riset, selalu dipentingkan untuk melihat korelasi-korelasi intelegensi pada aspek-aspek anatomi, elektrokimia atau fisiologi.
3.      Pendekatan psikometris
Ciri utama dalam pendekatan ini adalah adanya anggapan bahwa intelegensi merupakan suatu konstrak (construct) atau sifat (trait) psikologis yang berbeda-beda keduanya bagi setiap orang.
Dalam pendekatan psikometris sendiri terdapat studi yaitu :
a.       Bersifat praktis dan lebih menekankan pada pemecahan masalah (problem solving)
b.      Lebih menekankan pada konsep dan penyusunan materi
            Pendekatan psikometri inilah yang melahirkan berbagai skala-skala pengukuran intelegensi yang menjadi awal skala intelegensi yang banyak dikenal sekarang.
4.      Pendekatan teori perkembangan
            Dalam pendekatan ini intelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara kualitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. Sebagai contoh, Jean Piaget (Girsburg & Opper, 1989 dan Hergenhahn, 1982) mengawali konsepsi mengenai tes intelegensi. Tampak oleh Piaget bahwa terdapat pola respon tertentu yang ada kaitannya dengan tingkatan usia tertentu pula. Studi selanjutnya meyakinkannya bahwa memang terdapat perbedaan kualitatif dalam cara berpikir anak pada masing-masing kelompok usia. (Drs. Saifuddin Azwar, MA., 1996)



DAFTAR PUSTAKA

Azwar Saifuddin. 1996. Pengantar Psikologi; Intelegensi, Pustaka Pelajar Offset.
Purwanto, Ngalim. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset.
Sholeh, Abdul Rahman. 2009. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta : Kencana.
Suryabrata, Sumadi. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.


teori belajar

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Belajar didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan’suatu pengetahuan, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).
Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar. Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran.
















BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Belajar
Para psikologi pendidikan memunculkan istilah teori belajar setelah mereka mengalami kesulitan ketika akan menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Berawal dari kesulitan tersebut munculah beberapa persepsi berbeda dari para psikolog, sehingga menghasilkan dalil- dalil yang memiliki inti kalau teori belajar adalah alat bantu yang sistematis dalam proses belajar.
Teori-teori belajar dikalangan psikolog bersifat eksperimental, dimana teori yang mereka kemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman mereka ketika dalam kegiatan belajar berlangsung. Dari interaksi tersebut, para psikolog menyusun proposisi yang mereka tekuni sehingga menghasilkan madzhab yangmereka ciptakan itu bisa digunakan sebagai landasan pola pikir mereka.

            B. Macam-Macam Teori Belajar

1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.  Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus- responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.


2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing- masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibatlangsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.


4. Teori Pembiasaan Klasik
Teori pembiasaan klasik (classical
conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936), pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
Pavlov mengadakan percobaan terhadap anjing yang diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing. Dari hasil percobaannya, sinyal (pertanda memainkan peran yang sangat penting dalam akdaptasi hewan terhadap sekitarnya.
Teori Classical conditioning yang ditemukan pavlov didasarkan pada tiga proses, yaitu: pertama, penyamarataan (generalization) sebab respon dikondisikan dengan kehadiran stimulus yang sama melalui keluarnya air liur; kedua, perbedaan (discimination) untuk merespon apabila ada perangsang makanan kemulutnya; ketiga, pemadaman (extinction) terjadi ketika stimulus disajikan berulang-ulang tanpa adanya stimulus berupa makanan. Kesimpulan dari percobaan pavlov ialah apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu disertai dengan stimulus penguat (UCS), stimulus tadi
(CS), cepat atau lambat akan menimbulkan respon atau perubahan yang kita kehendaki dalam CR. Skinner berpendapat bahwa percobaan Pavlov itu tunduk terhadap dua macam hukum yang berbeda, yakni: law of respondent conditioning atau hukum pembiasaan dan law of respondent extinction atau pemusnahan yang dituntut.

5. Teori Belajar Koneksionisme
Prinsip teori Thorndike adalah belajar asosiasi antara kesanpanca indra (sense impression) dengan implus untuk bertindak (impulse to action). Asosiasi itulah yang menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itulah, teory thorndike disebut Connectionism atau bond psychology. Awal eksperimennya menggunakan kucing, ketika eksperimen awal ini berhasil maka ia melanjutkan pada hewan lainnya. Kucing dibiarkan kelaparan, kemudian ia dimasukkan kedalam kotak yang sudah dirancang khusus, sehingga jika kucing itu mnyentuh tombol pintu maka pintu itu akan terbuka dan ia dapat keluar dan mencapai daging yang dijadikan umpan diluar kandang. Pada usaha pertama ia belum terbiasa memecahkan  problemnya, sampai kemudian berhasil menemukan tombol tersebut. Waktu yang dibutuhkan dalam usaha pertama agak lama. Percobaan yang sam dilakukan secara berulang-ulang.
Dengan terlatihnya proses belajar dari kesalahan (trial and error) , maka watu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu semakin singkat. Teori trial and error learning mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
 Adanya motif yang mendorong akktivitas.
 Adanya berbagai respon terhadap situasi.
 Adanya eliminasi respon- respon yang gagal atau salah.
 Adanya kemajuan reaksi- reaksi dalam mencapai tujuan.
Menurut thorndike, dasar proses belajar pada hewan maupun pada manusia adalah sama. Baik belajar pada hewan maupun manusia, menggacu pada tiga hukum belajar pokok, yaitu:
Law of Readiness adalah reaksi terhadap stimulus yang didukung kesiapan untuk bertindak dan reaksi itu menjadi memuaskan.
Law of Exercise ialah hubungan stimulus respon apabila dering digunakan akan semakin kuat melalui repetitton atau pengulangan
Law of
Use: Hubungan stimulus respon bertambah kuat jika ada latihan.
Law of Dis      
use : Hubungan stimulus respon bertambah lemah jika latihan dihentikan.
 Law of Effect ialah menunjukkan kepada makin kuat atau lemahnya hubungan sebagai akibat dari pada hasil respon yang dilakukan.
6. Teori Gestalt
Menurut aliran ini jiwa manusia adalah suatu keseluruhan ynag berstruktur. Suatu keseluruhn  bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah terbentuk dan salin berinterelasi satu sama lain.
Teori psikologi gestalt sangat berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
Tingkah laku terjadi berkat interaksi antar individu dan lingkungannya.
2.  Individu berada dalam keadaan keseimbangan yang dinamis, adanya ganguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong terjadinya tingkah laku.
3. Belajar mengutamakan aspek pemahaman (insight) terhadap situasi problematis.
4. Belajar menitikberatkan pada situasi sekarang, dalam situasi tersebut menemukan dirinya.
5. Belajar dimulai dari keseluruhan dan bagian-bagian hanya bermakna dalam keseluruhan itu.














BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan Teori Belajar kognitif dapat kami simpulkan sebagai berikut :
 Proses teori belajar kognitif Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar itu sendiri. Belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berikir yang sangat kompleks. Teori ini sangat berkaitan dengan teori sibemetik.






















DAFTAR PUSTAKA

Mahmud, PsikologiPendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2010, hlm., 72
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2009, hlm., 38-39
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010, hlm., 104
Bahrudin, Pedidikan dan Psikologi Perkembangan, Jogjakarta: Ar-Ruzz media, 2010, hlm., 169
Bahrudin, Pedidikan dan Psikologi Perkembangan, Jogjakarta: Ar-Ruzz media, 2010, hlm., 166-167
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi
Aksara, 2009, hlm., 41
























KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puji dan syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa dengan segala rahmatNya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Yang berjudul “Teori Teori Belajar”.
Makalah ini didasari tugas yang diberikan oleh Dosen Belajar dan Pembelajaran. Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada para mahasiswa-mahasiswi tentang Belajar dan Pembelajaran, khususnya mengenai Teori Belajar . Kami sangat menyadari dalam penyusunan makalah ini karena masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu segala saran dan masukan demi perbaikan makalah ini kami harapkan kepada Bapak Dosen untuk penyempurnaan makalah ini.
 Terima kasih.






Banda Aceh,  05 November  2014


Penyusun




kasus kepribadian

UNVERSITAS MUHAMMADIYAH ACEH
FAKULTAS PSIKOLOGI
 








LAPORAN HASIL ANALISA KASUS PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II
DI SUSUN OLEH :
NAMA : ERI ALFIANSYAH
NPM    : 1309110017



   I.      IDENTITAS

Nama                             :  IPA
Tempat/Tanggal Lahir  : Langsa, 18 Oktober 1994
Pekerjaan                      : Mahasiswa
Pendidikan Terakhir     : SMA
Status Pernikahan         : Belum Kawin
Alamat                          : Neusu





   II.        KELUHAN dan TUJUAN PEMERIKSAAN  

A.             Keluhan

Ø  Emosi yang belebihan
Ø  Tidak mampu mengontrol diri

B.        Tujuan Pemeriksaan
                    
Ø  Untuk mengetahui bagaimana emosi seseorang yang normal dan yang tidak normal



III. OBSERVASI

A.   Fisik
Ø  Tinggi    : 165 cm
Ø  Berat      : 60 kg
Ø  Kulit       : sawo matang
Ø  Rambut  : - pendek
                  - Lurus
                  - hitam
Ø  Wajah    : oval
Ø  Mata      : bulat
Ø  Hidung  : mancung

b.    Non Fisik
Ø  Suara          : keras
Ø  Raut wajah : murung
Ø  Ketika duduk sering menggoyangkan kaki, tidak bisa diam berbicara ceplas-ceplos, berbicara lantang dengan orang lain, senang mengganggu orang di sebelahnya.  
 IV.        ANAMNESA

A.   Auto Anamnesa

Ø  Pertemuan 1 :
o   Terlalu dimanja dalam keluarganya,karena anak laki-laki satu-satunya dalam    keluarga
o   Apa yang diinginkan selalu terpenuhi
o   Merasa dirinya hebat

Ø  Pertemuan  2 :
o   Apa yang dibicarakan selalu ingin didengarkan orang lain
o   Merokok karena ikut-ikutan teman
o   Sering marah-marah dengan hal-hal yang sepele

Ø  Pertemuan 3 :
o   Pernah kecewa karena hanya di manfaati oleh mantannya terdahulu
o   Tidak suka diatur-atur kehidupannya
o   Pergaulan bebas
o   Ingin hidup bebas tanpa ada yang melarangnya

B.   Alloanamnesa

o   Selalu membanggakan dengan apa yang dimiliki orang tuanya
o   Tidak peduli dengan keadaan
o   Suka memancing orang lain ketika marah
o   Suka pamer dengan barang-barang yang dia miliki
o   Terlalu mudah dimanfaatkan oleh temannya
o   Merasa dirinya kuat dengan mengajak orang lain berantam kalau sedang emosi


  V.      KESIMPULAN

            IPA  memiliki emosi yang tidak terkontrol ketika marah dia akan membanting barang apa saja yang ada di depannya,setelah membanting sesuatu IPA seperti merasa puas kemudian emosinya turun. tapi tidak jarang juga IPA kembali emosi secara tiba-tiba kalau ada yang menanyakan sesuatu hal kepadanya. IPA selalu mengikuti mode itu terlihat dari apa yang digunakan dan hendphone yang digunakan sering mengikuti model yang terbaru,itu mudah dia dapatkan karena apa keinginan dia mudah untuk didapatkan karena orang tuanya selalu menuruti keinginannya, kalau tidak dia akan marah kepada orang tuanya. Selain itu dia juga merasa dirinya hebat di hadapan teman-temannya, apa yang dibicarakan orang lain harus mendengarnya dia juga sangat egois tamannya harus mengutamakan dia dari pada yang lain.

IPA ini membutuhkan perhatian yang lebih dari teman-temannya, kalau di keluarganya mungkin sudah dia dapatkan dia termasuk anak yang di manja, namun kenyataannya  berbeda ketika dia bersama temannya yang justru hanya memanfaatkannya, dia juga merasa kalau ada temannya yang mau dekat pasti ingin memanfaatkannya. Itu sebabnya dia mau apa yang dia katakan teman-temannya harus mendengarkannya. IPA juga mengieginkan kehidupan yang bebas tidak suka di larang-larang ini akibat dirumah terlalu di manjakan oleh kedua orang tuanya, sehinnga timbul keinginan untuk bisa seperti teman-temannya yang lain yang bisa bebas akibat faktor pergaulan yang tidak baik.